Label

Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 30 Mei 2016

GOLONGAN KANAN

Yang menindas di kota-kota lalu menjadikannya bercerai-berai..
Yang memutuskan tali silaturahim..
Yang bersenang-senang tanpa peluh..
Yang menggunakan harta sesuka-suka tanpa sebutir pun keringat pada alisnya..
Yang melepaskan diri dari mata-mata hukum yang mengawasi...
Yang beralibi, yang mencari-cari alasan, yang memiliki perlindungan hukum yang kuat atas dosa-dosanya yang telah membunuh ribuan anak-anak dengan tangan yang bersih pada jas dan dasi-dasinya…
Yang menjadikan hukum tuli, bisu, dan buta pada mereka sendiri…
Semoga kelak (tidak) dicabut atas mereka pendengaran, mulut, dan penglihatan mereka…
Sementara petir, kegelapan, dan kilat menyambar-nyambar atas mereka…

Yang menempatkan orang lain dalam panoptikon..
Lalu dengan mata yang besar, mengawasi, mengontrol, dan menundukkan orang lain sesuka hati…
Semoga kelak dosa-dosanya (tidak) dicatat bersih tanpa satu pun yang tertutupi..
Dari Dia yang padanya tak mungkin menghindar…
Dari yang mengawasi langsung dari urat lehernya sendiri…
annida-online.com

Jumat, 13 Mei 2016

PEREMPUAN YANG MENGIRIS TANGANNYA SAMBIL MEMANDANG PURNAMA





Dan perempuan yang Yusuf tinggal di rumahnya ternyata mencintainya dan bermaksud menggoda dirinya. Saat merasa dirinya hanya berdua dengan Yusuf di rumah, pintu-pintu pun ditutupnya rapat. Perempuan itu mendatangi Yusuf – pelayannya,  dan berkata, “Marilah mendekat padaku”. Tapi kata Yusuf, “Aku berlindung kepada Allah, dan sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.”

Akan tetapi, perempuan itu telah berkehendak kepada Yusuf dan dia pun terus mendesaknya. Sekiranya Yusuf tidak melihat tanda dari Tuhannya, bisa jadi dia akan menyambut kehendak tersebut. Akan tetapi, Yusuf berhasil menegasinya, dan dia pun dipalingkan dari keburukan dan kekejian.

Mereka pun berlomba menuju pintu. Yusuf bermaksud keluar pintu dan perempuan tersebut bermaksud mencegahnya. Dan saat Yusuf berhasil membuka pintu, perempuan tersebut menarik baju gamisnya sampai robek. Dan sekonyong-konyong, suami perempuan tersebut rupa-rupanya telah berdiri di depan pintu, menyaksikan mereka, dan bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi.

Kaget, sebelum suaminya mengarahkan pemaknaan subjektif menyudutkan dirinya, perempuan itu segera berusaha mensugestikan pemaknaan yang lain terhadap tindakannya dengan berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau dihukum dengan siksa yang pedih?”

Selasa, 03 Mei 2016

MENJELANG FAJAR: MENGAKRABI KEMATIAN ALA JEAN-PAUL SARTRE





Judul Buku : Fiksi Lotus Vol.1
Penulis : Maggie Tjoakin
Tahun Terbit : 200?

Judul Cerpen : Menjelang Fajar
Judul Asli : The Wall
Penulis : Jean-Paul Sartre
Tahun Terbit : 1933

Sinopsis
Dalam ruangan yang bernuansa putih, Juan, Tom, dan Ibbieta berusaha mengakrabi kematiannya yang tinggal beberapa jam lagi. Mereka di tahan atas tuduhan keikutsertaan mereka atas gerakan anarki.

Dalam ruangan sempit yang dingin itu, mereka berusaha kematian yang akan menimpa mereka dan mencoba berdamai dengannya. Juan, yang termuda diantara mereka, yang ditahan hanya karena kakaknya ikut gerakan anarki, tidak bisa berpikir jernih dan mengalami kekalutan yang luar biasa dalam ruangan tersebut. Dialah yang paling gelisah dalam ruangan tersebut dan berusaha ditenangkan oleh dua orang lainnya, yakni Tom dan Ibbieta.

Sembari menunggu waktu eksekusi, seorang dokter dimasukkan dalam ruangan mereka. Dokter tersebut bermaksud untuk meneliti bagaimana orang-orang berusaha menyikapi kematiannya – setidaknya seperti itu menurut Ibbieta. Dalam ruangan dingin tersebut, kilasan masa lalu, bagaimana mereka akan mati, kemana mereka akan pergi setelah mati, mendatangi mereka secara beruntun. Mereka berusaha menyikapi kematian mereka dengan cara masing-masing. Lalu saat eksekusi itu tiba, sesuatu yang tidak disangka-sangka menghinggapi salah satu diantara mereka. Dan untuk kejadian itu, nama Ramon Gris harus disertakan. Dialah yang menjadi salah satu penyebab bagaimana kejadian tak disangka-sangka tersebut harus menimpa salah satu tokoh yang akan dieksekusi mati tersebut.




Jumat, 29 April 2016

DEBU-DEBU YANG BELAJAR MENYUCIKAN DIRI UNTUK KEKASIHNYA

 Karena mencintaimu…
Sebongkah emas yang mengira dirinya mulia..
Belajar berbaur dengan besi berkarat..
Dilumpur merendah…
Bukan karena tak lagi berharga..
Tapi hanya untuk menghibur hati-hati yang ditinggalkan…

Karena mencintaimu…
Matahari yang semula bersinar untuk diri sendiri..
Rela terang terus untuk mengusir gelap dibumi..
yang tak mungkin memberi kembali…
Bukan karena lelah tak pernah mendatangi…
Tapi hanya untuk menampakkan indahnya…
Membuatnya mengerti…
Betapa Ia selalu pantas bersyukur…

Karena mencintaimu…
Debu-debu yang berterbangan…
Bermimpi menyucikan jiwa-jiwa yang berharap suci…
Meski sekedar menggantikan air yang suci…
Mengantar ke Yang Maha Suci..
Berbuat sebaik-baiknya…
Sebisa-bisanya…

 
Karena mencintaimu…
Ulat yang mengira dirinya hina…
Berjuang penuh peluh memecahkan kerasnya kulit kepompong…
Batasannya…
Hanya untuk menjadi Kupu-Kupu walau sesaat…
Atas nama rindu pada kesempurnaan…

Karena mencintaimu…
Katak-katak di danau...
Penuh suka cita terus bernyanyi…
Belajar terus mencintai rumahnya…
Tak lagi cemburu pada mereka yang di laut…
Bukan tak ingin melanglang…
Tapi untuk menjaga bunga-bunga yang mekar di tengah-tengah…
Belajar bersyukur lagi dan lagi…
Pada sesuatu yang dimiliki…

Karena mencintaimu…
Gunung-gunung yang angkuh..
Menundukkan pandangan di kaki-kakinya…
Bukan tak ingin berteman awan…
Hanya tak ingin membiarkan lembah ditikam sepi...
Bercerita padanya betapa indah hijaunya dari atas…
Belajar memuliakan…
Menundukkan terus ‘Aku’ dan ‘Aku’…
Agar bisa meng-kita..

Dan karena mencintaimu…
Lelaki yang bertubuh rapuh itu…
Melihat sepenuhnya pada usia yang hanya sebentar…
Pada secuil ilmu yang masih menyeret-nyeret kepalsuan…
Masih terus belajar…
Masih terus berjuang…
Masih terus berdoa…
Masih terus berusaha berbuat sebaik-baiknya…
Masih terus mencoba bermanfaat sebanyak-banyaknya..

Hanya untuk harapan yang tak pasti…
Untuk menarik singgahmu di sisinya walau hanya sesaat…
Walau hanya sesaat…
Walau sekedar berteduh selepas itu pergi…
Lelaki yang tak pernah ingin mengecewakanmu…
Masih terus berusaha memantaskan diri sebagai pencinta...
Masih terus belajar mencintai  semurni-murninya…
Sebaik-baiknya…
Sampai hatimu hadir…
Atau bahkan ketika kau tak mungkin hadir…


Bukan tak berharap melebur…
Hanya untuk memastikan…
Bahwa betapa bersyukurnya dia…
Saat cintanya kepadamu mendatangi…
 
______
Sumber gambar: delphin-indonesia.com

                                                                 

Selasa, 26 April 2016

TOLERANSI, KATAMU? TOLERANSI YANG OFFSIDE, KATAKU!




Pada sebagian orang yang seringkali dianggap tidak toleran itu, pemaknaan subjektif dari tindakan yang diarahkan orang-orang yang mengaku toleran itu, seringkali ada yang lebih terasa seperti:  “Kami diharapkan menoleransi keyakinan dan ajaran-ajaran dari orang-orang yang mengaku toleran itu, tapi di satu sisi, mereka mengajak anak-anak kami, saudara-saudara kami, anak-anak dari paman dan bibi kami, dan semua orang yang kami cintai, untuk meninggalkan keyakinan yang telah kami anggap sebagai jalan keselamatan selama bertahun-tahun, lalu lari berpihak pada keyakinan mereka yang membawa konsep keselamatannya sendiri.” Hal-hal yang dituturkan dengan kata, seringkali berbeda dengan pemaknaan subjektif yang dilekatkan padanya.

Kami mungkin lebih toleran jika mereka hanya meminta untuk tidak diganggu dalam berbagai pelaksanaan doktrin dan ritus jalan keselamatan mereka, tapi di satu sisi, mereka malah berusaha menarik dengan sembunyi-sembunyi satu per satu orang-orang yang kami cintai, lalu berlindung dibalik kedok toleransi yang seringkali offside. Itu tentu saja cara yang tidak sopan, dan justru tidak menghargai keyakinan kami. Mereka dan orang-orang yang mereka sebut tidak toleran itu pada dasarnya tidak berbeda. Hanya saja, salah satunya menggunakan cara yang lebih halus untuk mengukuhkan kebenaran mereka di atas yang lain. Dan hal tersebut, bagi kami, tentu saja telah mempelesetkan arti dari kata toleransi itu sendiri, demi kepentingan golongan mereka sendiri.




Seandainya mereka datang dengan cara yang baik-baik, barangkali kami akan lebih terbuka. Tapi mereka malah menganggap rendah orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka – setidaknya pada mereka yang tidak dianggap toleran – dengan memberikan stereotipe  “orang-orang bodoh yang tidak bisa toleran”. Mereka telah memadatkan orang lain dengan embel-embel bodoh. Apakah orang yang mereka tuduh tidak toleran itu juga dimasukkan dalam konsep keselamatan mereka? Entah siapa yang tahu.

Kami barangkali akan lebih menghargai, dan tentu saja mereka akan lebih terhormat, jika mereka datang kepada anak-anak kami, saudara-saudara kami, anak-anak paman dan bibi kami, dan pada diri-diri kami sendiri, dengan cara yang lebih terbuka, dan dengan penuh cinta berkata: “Kami menyayangi kalian, dan sesungguhnya kami selalu berharap bahwa kita semua akan dikumpulkan dalam keselamatan yang abadi kelak. Maka dengarlah, kami telah mengetahui sebentuk jalan keselamatan dan kalian pun mengetahui sebentuk jalan keselamatan yang lain. Maka dari itu, marilah kita mendiskusikan kedua jalan keselamatan itu. Jika kita menyepakati sebentuk jalan keselamatan yang lebih baik, marilah kita bahu-membahu menempuh jalan itu. Tapi jika pada akhirnya kita memilih jalan masing-masing, maka saksikanlah, sekalipun dalam perbedaan jalan tersebut, kami akan tetap dan selalu menjadi saudaramu dalam hal kemanusiaan.

Seperti itulah toleransi tanpa offside yang kami harapkan diarahkan pada orang-orang yang tertuduh tidak toleran itu. Bukan toleransi yang sekedar kedok yang dimaksudkan untuk mengembangkan golongan sendiri, yang justru dilakukan dengan cara mengikis golongan kami, melalui datangnya mereka pada anak-anak kami, saudara-saudara kami, dan anak-anak dari paman dan bibi kami, dengan cara yang sembunyi-sembunyi.

Jika kalian memang dalam keselamatan, maka keluarlah tanpa membawa topeng pada wajah kalian! Periode dakwah sembunyi-sembunyimu telah habis. Dan terlepas dari benar-salahnya tebakan orang-orang yang kalian angggap tidak toleran itu, gerak-gerik kalian telah terawasi. Dan jika kau memang menginginkan keselamatan bagi semua orang, beberkanlah maksud kalian seolah-olah kalian panitera. Terangkanlah dengan benderang  keberadaan dan esensi kalian. Tuturkanlah kesalahpahaman mereka tentang kalian. Selamatkanlah mereka dengan membantu mereka agar tidak selalu berprasangka buruk tentang kalian. Atau bawalah bukti yang nyata,  sekiranya jalan keselamatan yang kalian tawarkan memang lebih baik dari orang-orang yang kalian anggap tidak toleran itu. Jubahmu sudah terlalu sempit untuk menyembunyikan kebenaran tentang diri kalian yang semakin membesar itu.

Kami tidak bersimpati pada gerakan yang menggunakan kekerasan untuk membubarkan paksa orang-orang yang hanya berdiskusi. Tapi rasa tidak simpati yang muncul di hati kami, terarahkan sama besarnya pada gerakan yang hanya menggunakan toleransi sebagai kedok untuk mengembangkan golongan mereka sendiri dengan cara yang seringkali offside.  Mereka mengampanyekan isu toleransi sama gencarnya dengan usaha mereka mendekati anak-anak kami, saudara-saudara kami, anak-anak dari paman dan bibi kami, dan semua orang yang kami cintai untuk meninggalkan jalan keselamatan yang telah berusaha kami tempuh selama ini.

Meski begitu, tak terbersit setetes pun di hati kami untuk menolak ‘keberadaan dan esensi kemanusiaan mereka’. Kami hanya menolak metode mereka yang bergerak di waktu malam hari untuk mengikis golongan kami, sementara di siang harinya, sibuk mengampayekan isu toleransi. Kami masih selalu meyakinkan diri untuk mencintai ‘ada dan esensi kemanusiaan’ mereka. Penegasian kami, hanyalah sebatas pada pemaknaan subjektif yang mereka arahkan kepada kami – bukan pada totalitas ‘Aku’ mereka sebagai manusia.

Dan pada akhirnya, semoga kita masih bisa saling mencintai sehingga tetap dimasukkan dalam Rahmat-Nya yang tiada henti-hentinya meliputi segala sesuatu. Meski dalam perbedaan kita.



Sumber gambar:

https://encrypted-tbn1.gstatic.com/...

Sabtu, 09 April 2016

MATA-MATA YANG MENGHUKUM: CERITA BELAKANG DAN TATAPAN YANG MENAKLUKKAN

Tindakan sosial yang bermaksud mengambil keuntungan dengan cara menceritakan keburukan orang lain di sebut cerita belakang . Pada kasus yang juga bisa disebut ghibah ini, tindakan sosial di maknai secara subjektif untuk menjatuhkan orang yang menjadi korban cerita belakang.

Selain pada korban, tindakan cerita belakang juga diarahkan kepada orang tempat cerita belakang tersampaikan. Di sana ada beragam makna subjektif, tapi biasanya – yang paling umum – adalah untuk membuat orang lain berpikir bahwa pelaku dan orang tempatnya bercerita belakang tersebut setidaknya masih memiliki hal-hal yang lebih baik dibanding sang korban. Jadi secara tidak langsung, saat melakukan cerita belakang, pelaku berusaha mengajak orang lain untuk mengangkat diri dengan cara merendahkan orang lain bersama-sama. 

Hanya dalam definisi tindakan sosial inilah cerita belakang ini dibatasi. Orang-orang yang bercerita tentang orang lain tapi untuk mengangkat kebaikannya, bukan cerita belakang karena tidak adanya “keburukan” yang dimungkinkan dimaknai secara subjektif. Tindakan sosial ini hanya bisa jatuh pada tindakan “menjilat” jika dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan dari orang yang diceritakan atau tempatnya bercerita. Orang-orang yang bermaksud menceritakan keburukan korban untuk melindungi orang lain juga bukan cerita belakang. Karenanya, orang-orang yang melapor ke polisi atas kejahatan orang lain tidak termasuk cerita belakang. Tindakan sosial yang menceritakan keburukan orang lain di depan pelaku keburukan tersebut juga bukan cerita belakang, sebab sang korban ada untuk memverifikasi pernyataan pelaku. Tindakan tersebut hanya bisa jatuh pada tindakan “pencela” jika dimaksudkan untuk merendahkan korban.



***
Cerita belakang mampu mengonstruksi pikiran orang lain terkait korban bahkan sebelum orang tersebut bertemu dengannya. Orang-orang yang menyebarkan cerita belakang adalah orang-orang yang berusaha membentuk orang lain melalui cerita-ceritanya yang menyebarkan bau bangkai. Disebut memakan bangkai karena biasanya pelaku memanfaatkan keburukan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Tindakan tersebut sama halnya dengan memakan – menguyah dengan mulut – bangkai saudara sendiri – keburukan-keburukannya – untuk kekenyangan diri sendiri – untuk kepentingan diri sendiri. Meski itu biasanya hanya untuk hal sepele, misalnya agar punya bahan cerita saat bersama yang lain. Atau mungkin untuk hal yang munafik; untuk mengalihkan perhatian orang lain dari keburukan sendiri dengan menggunakan keburukan orang lain sebagai tameng, atau sekedar membuat diri merasa lebih baik dibanding orang lain atau menutupi rasa bersalah atas keburukan-keburukan yang pernah dilakukan.

Saat penyebar bangkai – yang biasanya juga berprofesi ganda sebagai pembawa kayu bakar dengan sabut yang melingkar pada lehernya - mengonstruksi pikiran orang lain, pada dasarnya dia sedang membagikan bangkai kepada sesamanya sendiri. Dia berusaha meyakinkan orang lain bahwa korbannya demikian dan demikian. Akibatnya, semakin banyak orang yang berpikiran buruk terhadap si korban semakin sulit korban melepaskan diri konstruksi pikiran tersebut. Korban tidak lagi menjadi bebas mendefinisikan dirinya sendiri dan terjebak dari definisi orang kebanyakan tersebut. Manusia yang seharusnya bertanggungjawab sepenuhnya atas dirinya sendiri kini menjadi terlempar dalam ketidakotentikan akibat ketidakmampuannya membentuk dirinya sendiri.

Bagaimana caranya orang yang menjadi korban cerita belakang menjadi tidak otentik?

Saat penyebar bangkai dan pembawa kayu bakar menyeret sabut pada lehernya berhasil menyebar bangkai dan membakar sesama-sesamanya, bau bangkai sang korban kini tersebar di mana-mana. Orang-orang kini memiliki konstruksi dan cara menatap tersendiri terhadap sang korban. Pria yang dipikirkan buruk tersebut kini terjajah oleh cara pandang orang lain. Dia tidak lagi bisa melihat dirinya menurut pikirannya sendiri. Pikiran tentang dirinya sendiri menjadi penuh dengan ambiguitas. Dia akan terjebak dalam ruang-antara, mengambang dalam ketidakpastian. Pengetahuan tentang jati diri sang korban menjadi kacau, akibatnya orang bisa semena-mena membentuk sang korban menurut kemauanya sendiri. Jati diri sang korban kini menjadi plastisin yang bisa dibentuk dan dipoles sesuka hati. Sang korban kini kehilangan kebebasannya untuk menentukan esensinya sendiri. Dan ini sesuatu yang sangat meletihkan secara eksistensi.

Saat sang korban bertemu dengan orang-orang yang mulutnya penuh dengan bau bangkai, sang korban seolah melangkah ke dalam ruang tertutup yang kosong dan terang benderang, dimana cahaya lampu mampu menembus sampai ke lekuk-lekuk tubuhnya – tidak ada apapun selain dirinya sendiri dalam ruang tersebut dan tidak ada sedikit ruang pun untuk menghindar dari cahaya lampu tersebut. Sementara di luar dinding – kegelapan memeluk ruangan tersebut dan tidak memberikan kesempatan pada orang-orang di luar sana untuk melihat sesuatu sekalipun saat menjulurkan tangannya sendiri – berpasang-pasang mata mengintipnya dari celah-celah yang sempit. Sang korban tahu dirinya sedang ditatap habis-habisan mulai dari ujung kaki sampai kepala – diawasi, dinilai, dan dihukumi habis-habisan – tapi dia tidak pernah tahu siapa dan bagiamana mata-mata tersebut menatapnya dari luar akibat kegelapan yang menyelimuti. 

Tatapan-tatapan dari balik dinding tersebut seolah anak panah yang dilontarkan kepada sang korban, dan tidak mungkin meleset, dan sang korban tidak tahu bagaimana harus menyikapinya. Sang korban kini terjebak dalam ambiguitas, dan tidak bisa lolos dari tapapan yang menaklukkan tersebut. Tatapan tersebut membentuknya sesuka hati, dan dia tak bisa mengelak. Saat mata-mata tersebut menatapnya sebagai batu, maka jadilah sang korban sebentuk batu. Saat sang korban ditatap sebagai lilin yang meleleh, jadilah sang korban lilin yang meleleh.

Sang korban kini didefinisikan secara kolektif orang lain. Dia tidak lagi bisa memandang dirinya secara jernih. Tatapan orang lain kini dijadikan alat untuk mendefinisikan dirinya sendiri, dengan rela atau terpaksa. Kalau dia berusaha menghindar dari tatapan tersebut, dia akan dianggap over-acting, dan sekedar dianggap berpura-pura. Segala tindakan sang korban kini dilihat dalam kerangka bangkai tersebut.

Tatapan-tatapan yang menaklukkan tiap tubuh sang korban, menjadi sesuatu yang menyiksa sang korban. Dia tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Seluruh tindakannya kini menjadi tidak otentik, dan jika dia menyerah, dia akan benar-benar menjadikan definisi orang lain sebagai jati dirinya. Sang korban seringkali tidak tahu melakukan apa. Sang korban, bahkan seringkali dijadikan kambing hitam yang dimanfaat untuk merekatkan ikatan dalam kelompok sang penyebar bangkai.

Orang lain kini menjadi neraka bagi sang korban. Setiap kali bertemu, tatapan orang lain selalu menaklukkannya. Dia bergantung sepenuhnya pendefinisian orang lain. Dia akan selalu tersiksa, diobjektivasi terus-menerus tanpa punya kesempatan menjadi subjek. Kebebasannya kini telah direnggut oleh tatapan orang lain.

Hal terburuknya, jika asumsi bahwa cerita belakang orang-orang tersebut benar, sang korban kini menjadi kesulitan untuk memperbaiki dirinya akibat tatapan dari orang-orang. Para pelaku tersebut, alih-alih mengulurkan tangan, mereka malah tambah membenamkan sang korban dalam kesalahan-kesalahannya. Tindakan para pelaku justru mempersulit korban untuk naik ke permukaan. Mereka membenamkan sang korban untuk menampakkan kepalanya sendiri ke permukaan. Bermaksud merendahkan korban untuk membuat dirinya sendiri terlihat lebih tinggi. 

Saat ingin melepaskan diri sekalipun, sang korban masih bergantung pada orang lain. Dia harus diakui kelompok, dan ini jelas sangat meletihkan. Sang korban akan menghabiskan waktunya untuk mencari perhatian dari orang-orang agar bisa diakui atau membalikkan kembali tatapan orang lain. Saat ini terjadi, korban akan menjadi semakin tidak otentik karena justru membiarkan dirinya dikontrol tatapan orang lain.

Sang korban sebenarnya punya peluang melepaskan diri, tapi dia harus meninggalkan tempatnya pada mulanya. Sang korban harus mencari tempat baru dimana bau bangkai tidak lagi mencapainya. Di sanalah dia baru bisa membentuk dirinya sendiri, tapi itupun kalau dia berhasil melepaskan bentuk ketergantungannya pada orang lain. Dia masih bisa menjadi tidak otentik jika terus aja terobsesi mencari-cari perhatian, pengakuan, atau legalitas atas jati dirinya yang baru. 


Sartre.
 link

Memanfaatkan Diri Sendiri dan Mencabut Kembali tatapan yang Menaklukkan

Orang-orang yang sering menyebar bangkai pada dasarnya mengajari orang lain untuk memandang sang korban dengan tatapan yang menaklukkan. Saat menatap sang korban, orang lain merasa berhak untuk mengawasi seluruh gerak-gerik korban, menilainya, tanpa memberi kesempatan kepada korban untuk mengelak. Mereka menimbang baik-buruknya korban, benar-salahnya tindakan, dan masalahnya, hal tersebut bersifat sepihak dan dilandasi oleh kerangkeng bau bangkai yang sebelumnya telah merasuk di kepala mereka. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa keburukan tersebut dianalogikan seperti bangkai, karena saat cerita belakang menyebar, sang korban tidak ada untuk memverifikasi pernyataan orang lain. Para pelaku bisa dengan sebebas-bebasnya mengobjektivasi orang lain.

Menjadi sang korban, rasanya barangkali seperti berjalan di sepanjang koridor di mana semua mata menghakimi dengan tatapan yang menaklukkan dan penuh rasa curiga. Orang yang berjalan di koridor tersebut tidak bisa berjalan menurut gayanya sendiri akibat ketidakmampuannya mengelak dari hujaman mata-mata yang menatap. Sang korban terjebak dalam ambiguitas, karena sibuk menyesuaikan diri dengan apa yang orang lain pikirkan. Masalahnya, dia tidak tahu pasti apa yang orang lain pikirkan tentangnya, dan semua akan menjadi rumit jika dia memaksakan dugaan atas pikiran orang lain tersebut kepada dirinya sendiri. Hal tersebut sama saja menghukum tubuhnya sendiri dan mempengaruhi bagaimana cara sang korban mendunia.

Untuk mengembalikan keotentikan sang korban, para pelaku pada dasarnya bisa meminta maaf dengan cara mencabut semua tatapan-tatapan yang diarahkan kepada sang korban. Pelaku harus berhenti mengobjektivasi orang lain, dan memberikan kebebasan pada orang lain untuk mendefinisikan diri sendiri. Pelaku harus berhenti mengukur dan menilai langkah-langkah korban. Alih-alih tambah membenamkan, para pelaku mestinya mengulurkan tangan untuk menarik sang korban naik kepermukaan. 



Para pelaku harus berhenti menyiksa dan menjadikan neraka bagi orang lain. Sebab saat kita memberi neraka pada yang lain, bisa jadi disatu sisi, hati kita sendiri telah terbelenggu di dalam neraka.S


Rujukan: 
------------------
Ritzer. George. 1980. Sosiologi Ilmu pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Wibowo. 2011. Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Yogyakarta: Kanisius