Label

Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 19 September 2016

PENERIMAAN

Bunga-bunga semerbak yang kau beri telah diterimanya, Kekasihku.
 Tapi belum juga cintamu
Belum diakunya adamu
            Tak dirasa-rasanya kasihmu

Padahal segala syarat tak  kau wanti-wanti
Segala balas tak kau nanti-nanti
Inginmu hanya tak merelanya merana
Membuatnya kering dan meronta-ronta
Hanya menambah gersang di tandus jiwanya

Memaksa-maksa bukanlah caramu, Kekasihku
Gila sembah pun bukan harapmu
Lagi sesak dan desak bukanlah penerimaan
            Hanya tulus hati terbuka seluruh
Penerimaan penuh sungguh

Tak mengeluarnya sedikitpun diinginmu, Kekasihku
Tak di segala adamu
Hanya hatinya tak melebur sungguh
            Berpaling-sangkal selalu
Bermuka dusta selalu

www.slideshare.net

Minggu, 18 September 2016

ORANG-ORANG YANG TERLUPA DAN TERLEMPAR

Orang-orang yang melakukan perjalanan
Berat hati meningalkan rumah
Tak ingin beranjak pergi
Jika bukan karena tujuan yang mulia
Dan janji untuk kembali

Orang-orang yang melakukan perjalanan
Terpana dengan tempatnya turun
Lupa pada tujuannya yang mulia
juga pada rindunya
Berharap tinggal selamanya
Menolak pulang
Mendustakan janji

Orang-orang yang melakukan perjalanan
 Mengejar dunia tempatnya turun
Menjadikannya tujuan
Padahal hanya persinggahan
Yang akan berpaling dan meninggalkan

triwardanamokoagow.blogspot.com

Senin, 30 Mei 2016

GOLONGAN KANAN

Yang menindas di kota-kota lalu menjadikannya bercerai-berai..
Yang memutuskan tali silaturahim..
Yang bersenang-senang tanpa peluh..
Yang menggunakan harta sesuka-suka tanpa sebutir pun keringat pada alisnya..
Yang melepaskan diri dari mata-mata hukum yang mengawasi...
Yang beralibi, yang mencari-cari alasan, yang memiliki perlindungan hukum yang kuat atas dosa-dosanya yang telah membunuh ribuan anak-anak dengan tangan yang bersih pada jas dan dasi-dasinya…
Yang menjadikan hukum tuli, bisu, dan buta pada mereka sendiri…
Semoga kelak (tidak) dicabut atas mereka pendengaran, mulut, dan penglihatan mereka…
Sementara petir, kegelapan, dan kilat menyambar-nyambar atas mereka…

Yang menempatkan orang lain dalam panoptikon..
Lalu dengan mata yang besar, mengawasi, mengontrol, dan menundukkan orang lain sesuka hati…
Semoga kelak dosa-dosanya (tidak) dicatat bersih tanpa satu pun yang tertutupi..
Dari Dia yang padanya tak mungkin menghindar…
Dari yang mengawasi langsung dari urat lehernya sendiri…
annida-online.com

Jumat, 13 Mei 2016

PEREMPUAN YANG MENGIRIS TANGANNYA SAMBIL MEMANDANG PURNAMA





Dan perempuan yang Yusuf tinggal di rumahnya ternyata mencintainya dan bermaksud menggoda dirinya. Saat merasa dirinya hanya berdua dengan Yusuf di rumah, pintu-pintu pun ditutupnya rapat. Perempuan itu mendatangi Yusuf – pelayannya,  dan berkata, “Marilah mendekat padaku”. Tapi kata Yusuf, “Aku berlindung kepada Allah, dan sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.”

Akan tetapi, perempuan itu telah berkehendak kepada Yusuf dan dia pun terus mendesaknya. Sekiranya Yusuf tidak melihat tanda dari Tuhannya, bisa jadi dia akan menyambut kehendak tersebut. Akan tetapi, Yusuf berhasil menegasinya, dan dia pun dipalingkan dari keburukan dan kekejian.

Mereka pun berlomba menuju pintu. Yusuf bermaksud keluar pintu dan perempuan tersebut bermaksud mencegahnya. Dan saat Yusuf berhasil membuka pintu, perempuan tersebut menarik baju gamisnya sampai robek. Dan sekonyong-konyong, suami perempuan tersebut rupa-rupanya telah berdiri di depan pintu, menyaksikan mereka, dan bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi.

Kaget, sebelum suaminya mengarahkan pemaknaan subjektif menyudutkan dirinya, perempuan itu segera berusaha mensugestikan pemaknaan yang lain terhadap tindakannya dengan berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau dihukum dengan siksa yang pedih?”

Selasa, 03 Mei 2016

MENJELANG FAJAR: MENGAKRABI KEMATIAN ALA JEAN-PAUL SARTRE





Judul Buku : Fiksi Lotus Vol.1
Penulis : Maggie Tjoakin
Tahun Terbit : 200?

Judul Cerpen : Menjelang Fajar
Judul Asli : The Wall
Penulis : Jean-Paul Sartre
Tahun Terbit : 1933

Sinopsis
Dalam ruangan yang bernuansa putih, Juan, Tom, dan Ibbieta berusaha mengakrabi kematiannya yang tinggal beberapa jam lagi. Mereka di tahan atas tuduhan keikutsertaan mereka atas gerakan anarki.

Dalam ruangan sempit yang dingin itu, mereka berusaha kematian yang akan menimpa mereka dan mencoba berdamai dengannya. Juan, yang termuda diantara mereka, yang ditahan hanya karena kakaknya ikut gerakan anarki, tidak bisa berpikir jernih dan mengalami kekalutan yang luar biasa dalam ruangan tersebut. Dialah yang paling gelisah dalam ruangan tersebut dan berusaha ditenangkan oleh dua orang lainnya, yakni Tom dan Ibbieta.

Sembari menunggu waktu eksekusi, seorang dokter dimasukkan dalam ruangan mereka. Dokter tersebut bermaksud untuk meneliti bagaimana orang-orang berusaha menyikapi kematiannya – setidaknya seperti itu menurut Ibbieta. Dalam ruangan dingin tersebut, kilasan masa lalu, bagaimana mereka akan mati, kemana mereka akan pergi setelah mati, mendatangi mereka secara beruntun. Mereka berusaha menyikapi kematian mereka dengan cara masing-masing. Lalu saat eksekusi itu tiba, sesuatu yang tidak disangka-sangka menghinggapi salah satu diantara mereka. Dan untuk kejadian itu, nama Ramon Gris harus disertakan. Dialah yang menjadi salah satu penyebab bagaimana kejadian tak disangka-sangka tersebut harus menimpa salah satu tokoh yang akan dieksekusi mati tersebut.




Jumat, 29 April 2016

DEBU-DEBU YANG BELAJAR MENYUCIKAN DIRI UNTUK KEKASIHNYA

 Karena mencintaimu…
Sebongkah emas yang mengira dirinya mulia..
Belajar berbaur dengan besi berkarat..
Dilumpur merendah…
Bukan karena tak lagi berharga..
Tapi hanya untuk menghibur hati-hati yang ditinggalkan…

Karena mencintaimu…
Matahari yang semula bersinar untuk diri sendiri..
Rela terang terus untuk mengusir gelap dibumi..
yang tak mungkin memberi kembali…
Bukan karena lelah tak pernah mendatangi…
Tapi hanya untuk menampakkan indahnya…
Membuatnya mengerti…
Betapa Ia selalu pantas bersyukur…

Karena mencintaimu…
Debu-debu yang berterbangan…
Bermimpi menyucikan jiwa-jiwa yang berharap suci…
Meski sekedar menggantikan air yang suci…
Mengantar ke Yang Maha Suci..
Berbuat sebaik-baiknya…
Sebisa-bisanya…

 

Selasa, 26 April 2016

TOLERANSI, KATAMU? TOLERANSI YANG OFFSIDE, KATAKU!




Pada sebagian orang yang seringkali dianggap tidak toleran itu, pemaknaan subjektif dari tindakan yang diarahkan orang-orang yang mengaku toleran itu, seringkali ada yang lebih terasa seperti:  “Kami diharapkan menoleransi keyakinan dan ajaran-ajaran dari orang-orang yang mengaku toleran itu, tapi di satu sisi, mereka mengajak anak-anak kami, saudara-saudara kami, anak-anak dari paman dan bibi kami, dan semua orang yang kami cintai, untuk meninggalkan keyakinan yang telah kami anggap sebagai jalan keselamatan selama bertahun-tahun, lalu lari berpihak pada keyakinan mereka yang membawa konsep keselamatannya sendiri.” Hal-hal yang dituturkan dengan kata, seringkali berbeda dengan pemaknaan subjektif yang dilekatkan padanya.

Kami mungkin lebih toleran jika mereka hanya meminta untuk tidak diganggu dalam berbagai pelaksanaan doktrin dan ritus jalan keselamatan mereka, tapi di satu sisi, mereka malah berusaha menarik dengan sembunyi-sembunyi satu per satu orang-orang yang kami cintai, lalu berlindung dibalik kedok toleransi yang seringkali offside. Itu tentu saja cara yang tidak sopan, dan justru tidak menghargai keyakinan kami. Mereka dan orang-orang yang mereka sebut tidak toleran itu pada dasarnya tidak berbeda. Hanya saja, salah satunya menggunakan cara yang lebih halus untuk mengukuhkan kebenaran mereka di atas yang lain. Dan hal tersebut, bagi kami, tentu saja telah mempelesetkan arti dari kata toleransi itu sendiri, demi kepentingan golongan mereka sendiri.




Seandainya mereka datang dengan cara yang baik-baik, barangkali kami akan lebih terbuka. Tapi mereka malah menganggap rendah orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka – setidaknya pada mereka yang tidak dianggap toleran – dengan memberikan stereotipe  “orang-orang bodoh yang tidak bisa toleran”. Mereka telah memadatkan orang lain dengan embel-embel bodoh. Apakah orang yang mereka tuduh tidak toleran itu juga dimasukkan dalam konsep keselamatan mereka? Entah siapa yang tahu.

Kami barangkali akan lebih menghargai, dan tentu saja mereka akan lebih terhormat, jika mereka datang kepada anak-anak kami, saudara-saudara kami, anak-anak paman dan bibi kami, dan pada diri-diri kami sendiri, dengan cara yang lebih terbuka, dan dengan penuh cinta berkata: “Kami menyayangi kalian, dan sesungguhnya kami selalu berharap bahwa kita semua akan dikumpulkan dalam keselamatan yang abadi kelak. Maka dengarlah, kami telah mengetahui sebentuk jalan keselamatan dan kalian pun mengetahui sebentuk jalan keselamatan yang lain. Maka dari itu, marilah kita mendiskusikan kedua jalan keselamatan itu. Jika kita menyepakati sebentuk jalan keselamatan yang lebih baik, marilah kita bahu-membahu menempuh jalan itu. Tapi jika pada akhirnya kita memilih jalan masing-masing, maka saksikanlah, sekalipun dalam perbedaan jalan tersebut, kami akan tetap dan selalu menjadi saudaramu dalam hal kemanusiaan.

Seperti itulah toleransi tanpa offside yang kami harapkan diarahkan pada orang-orang yang tertuduh tidak toleran itu. Bukan toleransi yang sekedar kedok yang dimaksudkan untuk mengembangkan golongan sendiri, yang justru dilakukan dengan cara mengikis golongan kami, melalui datangnya mereka pada anak-anak kami, saudara-saudara kami, dan anak-anak dari paman dan bibi kami, dengan cara yang sembunyi-sembunyi.

Jika kalian memang dalam keselamatan, maka keluarlah tanpa membawa topeng pada wajah kalian! Periode dakwah sembunyi-sembunyimu telah habis. Dan terlepas dari benar-salahnya tebakan orang-orang yang kalian angggap tidak toleran itu, gerak-gerik kalian telah terawasi. Dan jika kau memang menginginkan keselamatan bagi semua orang, beberkanlah maksud kalian seolah-olah kalian panitera. Terangkanlah dengan benderang  keberadaan dan esensi kalian. Tuturkanlah kesalahpahaman mereka tentang kalian. Selamatkanlah mereka dengan membantu mereka agar tidak selalu berprasangka buruk tentang kalian. Atau bawalah bukti yang nyata,  sekiranya jalan keselamatan yang kalian tawarkan memang lebih baik dari orang-orang yang kalian anggap tidak toleran itu. Jubahmu sudah terlalu sempit untuk menyembunyikan kebenaran tentang diri kalian yang semakin membesar itu.

Kami tidak bersimpati pada gerakan yang menggunakan kekerasan untuk membubarkan paksa orang-orang yang hanya berdiskusi. Tapi rasa tidak simpati yang muncul di hati kami, terarahkan sama besarnya pada gerakan yang hanya menggunakan toleransi sebagai kedok untuk mengembangkan golongan mereka sendiri dengan cara yang seringkali offside.  Mereka mengampanyekan isu toleransi sama gencarnya dengan usaha mereka mendekati anak-anak kami, saudara-saudara kami, anak-anak dari paman dan bibi kami, dan semua orang yang kami cintai untuk meninggalkan jalan keselamatan yang telah berusaha kami tempuh selama ini.

Meski begitu, tak terbersit setetes pun di hati kami untuk menolak ‘keberadaan dan esensi kemanusiaan mereka’. Kami hanya menolak metode mereka yang bergerak di waktu malam hari untuk mengikis golongan kami, sementara di siang harinya, sibuk mengampayekan isu toleransi. Kami masih selalu meyakinkan diri untuk mencintai ‘ada dan esensi kemanusiaan’ mereka. Penegasian kami, hanyalah sebatas pada pemaknaan subjektif yang mereka arahkan kepada kami – bukan pada totalitas ‘Aku’ mereka sebagai manusia.

Dan pada akhirnya, semoga kita masih bisa saling mencintai sehingga tetap dimasukkan dalam Rahmat-Nya yang tiada henti-hentinya meliputi segala sesuatu. Meski dalam perbedaan kita.



Sumber gambar:

https://encrypted-tbn1.gstatic.com/...